KEPERGIANMU
Air matamu mengiris hatiku halus
kuusapkan telapak tanganku ke wajahmu yang pucat
terlihat ketakutan kehilangan akan nafasmu
nafasmu yang mengalir dalam nafasku
Kubelai rambutmu dengan kelembutan angin malam
terasa getaran menyatu diujung jari-jari
tak kuasa menahan gejolak kasih
limpahan nuansa kejora malam yang tak bertepi
Tak akan kutinggalkan hatimu yang manangis pilu
telah terpatri janji pada kedalaman nurani
akan ikut menyatu kegalauan kasih dalam derita
meski kekuatan malam hendak meragas
kuusapkan telapak tanganku ke wajahmu yang pucat
terlihat ketakutan kehilangan akan nafasmu
nafasmu yang mengalir dalam nafasku
Kubelai rambutmu dengan kelembutan angin malam
terasa getaran menyatu diujung jari-jari
tak kuasa menahan gejolak kasih
limpahan nuansa kejora malam yang tak bertepi
Tak akan kutinggalkan hatimu yang manangis pilu
telah terpatri janji pada kedalaman nurani
akan ikut menyatu kegalauan kasih dalam derita
meski kekuatan malam hendak meragas
Gerimis di Kota Kau
masih basah dalam ingatanku
grimis di kotamu
menyisakan sebatang coklat di mulutku
: makanlah katamu!
tapi udara yang dingin membuatku menggigil
sebab kamu tak ingin kenangan itu
menjadi sebuah kolam yang dapat merendam
seluruh impian kanak-kanak
hanya karena kamu tak bisa berenang
dan menangkap seekor ikan di dalamnya
sudah mengering dalam ingatanku
ketika kau berlari menerobos gerimis
tanpa sehelai benang di tubuhmu
ketika aku mencoba memetik buah ceri
di puncuk buah dadamu
sekedar untuk menikmati ranumnya
gerimis di kotamu menuntunku kembali
ke dalam kabut yang membuatku tersesat
sebab tak kutemukan lagi wajahmu
yang tersimpan
di balik senyuman terakhir
0 komentar:
Posting Komentar